Posted by Unknown | Kamis, 26 Juli 2012 |
Posted in
cerpen
Derap-derap langkah kaki terdengar seiring angin kecil berhembus di dalam ruangan auditorium pertemuan. Kaki itu muncul berhiaskan sepatu hitam dinas, pakaianya parlente dan nampak jas dan dasi memenuhi sekucur tubuhnya. Perlahan waktu orang-orang telah memadati arena tersebut, layaknya arena pertandingan sepak bola. Sorak-sorak gembira dan tepuk tangan menyambut kedatanggannya.
Posted by Unknown | Jumat, 06 Juli 2012 |
Posted in
cerpen
Kejeniusan hanya sedikit bersangkut-paut dengan jalan menuju penemuan, itu adalah kata-kata Einstein. Sepertinya Nasya faham benar akan maksud perkataan tersebut. Biasanya akan muncul suatu loncatan dalam kesadaran. Banyak orang pintar di negeri ini, sekolah-sekolah gratis, bantuan pembiyayaan pendidikan yang terkecupi bagi mereka orang miskin yang tidak mampu memasukan anaknya ke sekolah.
Nasya semakin heran dalam hening malam yang hanya ditemani secangkir teh manis buatan ibunya dihalaman rumah. Ia semakin yakin dengan dunia pendidikan yang semakin menjanjikan. Orang-orang kaya rela memasukan anaknya ke sekolah favorit, walaupun itu harus mengeluarkan banyak rupiah. Berharap kelak anaknya mampu mewarisi kekayaan keluarganya dan mampu memimpin perusahaan keluarga.
Posted by Unknown | Sabtu, 23 Juni 2012 |
Posted in
cerpen
“Apa yang telah kau bawa dan mengapa kau telusuri jalan-jalan di tengah gelap malam seperti ini”. Desir angin di tengah malam pekat gulita semerbak wangi bunga, suara itu muncul di balik semak-semak perasaan orang ingin mencari sesuap nasi.
“Tidak aku hanya ingin memasang sepanduk calon pemimpinku yang telah memberikan aku sesuap rupiah di kantongku”. Jawaban itu muncul dari hatinya yang yakin bahwa dirinya tidak akan melakukan kesalahan dan memang ia memikul tanggung jawab untuk memasang apa yang telah di perintahkan atasanya.