Posted by Unknown | Selasa, 19 Juni 2012 |
Posted in
puisi
Engkau yang maha pengampun
Pastilah Kau mengampuniku
Setumpuk dosa tumpah ruah
Di samudera penuh hina
Kau tetap mengampuniku
Tapi…
Belum tentu ciptaan-Mu memaafkanku
Mereka punya hati dan pikiran
Jika terluka pasti ada bekasnya
Walau terkadang beribu maaf terucap
Hingga bibir ini luka
Hingga tangan ini memerah
Maka…
Aku pasrahkan diriku pada-Mu
Semoga menjadi fitrah sejati
Posted by Unknown | |
Posted in
puisi
Tabir-takbir rindu mengema ke angkasa
Aku ingin merengkuhnya
Memasukan dalam hatiku yang hampa
Tapi aku tidak mampu
Hanya telinga ini yang mendengarnya
Kan ku simpan langsung ke jantungku
Hingga ia lahir dalam kesucian
Sampai mata menutup ajal
Allahu akbar Allahu akbar Allahku akbar
Terimalah segala amalku Ya rabb
Posted by Unknown | |
Posted in
puisi
Kau telah mengoda malamku
Kau tawari aku seteguk air berrasa
Sehingga bila aku meminumnya akupun terbangun
Kau telah mengambil malamku
Kau suguhi aku segengam cinta
Sehingga bila aku mengambilnya akupun terperdaya
Kau telah menyetubuhi malamku
Kau tawari aku semangkuk gula merah
Sehingga bila aku memakannya akupun manis berasa
Kini kau telah memilikinya
Akupun pasrah…
Kembali kepada ke-haribaan-Mu
Posted by Unknown | Jumat, 15 Juni 2012 |
Posted in
puisi
Tepat dua belas malam lebih dua menit
Dua menit tersisa untuk auman bau mulut
Sesosok lelaki terbujur kaku dalam tidur
Bangun wahai lelaki berselimut
Malammu telah habis
Pagi telah muncul kembali
Sebut nama tuhanmu tiga kali
Allah…Allah…Allah
Namun…
Kau belum sadar juga
Bahwa waktumu telah habis
Bukan untuk masa ajalmu
Tapi…
Makna hidupmu
Sudah lama kau perjual belikan
Demi kepentingan dunia
Bangun wahai lelaki berselimut
Kini kau dalam penantian sang waktu
Tiba…tiba…
Bisa juga menjemput ajalmu
Kaupun melirik kecut
Hingga pagi tidak engkau nikmati
Posted by Unknown | |
Posted in
puisi
Menanti desir angin yang berhembus kemana jua
Tak tahu arah sejukan dunia
Binatang malam bersendau gurau dalam lantunan zikir
Pepohonan menunduk lusuh bertasbihkan cinta
Lailaltul qadar…
Malam keganjilan
Karena Engkau tunggal
Dicari umat merindu
Di mana engkau hanya sebuah tanda-tanda
Malam kemulyaan…
Malam seribu bulan
Allahuma innaka anfun karim tukhibuafu fa’fuana ya karim
Posted by Unknown | |
Posted in
puisi
Pertama aku mohon ampun pada-Mu ya Rabb
Tali doa ini aku sambungkan lidah bergoyang
Bernyanyi riang memohon maaf
Karena Engkau gemar memberi maaf
Maka ampuni aku
Sangat mudah berurusan dengan-Mu
Tapi…
Dengan sesama
Aku harus menghampiri
Berbeda dengan Engkau dimanapun juga
Mohon maaf atas segala kesalahan
Walau masih membekas di hatimu
Aku…
Hanya bisa memohon maaf atas diriku
Segala salah dan dosa
Posted by Unknown | Rabu, 13 Juni 2012 |
Posted in
puisi
Sujud syukur diatas sajadah panjang
Mengibaskan sayap-sayap tak beraturan
Bukan kisah sufi dengan pertaubatan
Bukan pula koruptor dengan kekuasaan
Hanyalah sebuah kisah tak berujung
Di istana kediaman tuhan
Namun beragam ekspresi bahkan tujuan
Semua karena kepentingan